NAMA : IIS ISTIQOMAH
KELAS : BIMBINGAN KONSELING ISLAM / SEMESTER
V
UNIVERSITAS WIRALODRA-INDRAMAYU
DRAFT MIKRO KONSELING
A.
PROLOG
Putri (konseli) adalah seorang gadis remaja usia 17 tahun (SMA
kelas 2). Dia memiliki perawakan , cantik dan menarik, tingginya kira-kira 160cm, orangtuanya pun
kaya raya. Ketika dia kesekolah dia selalu diantar dengan mobil mewah dan sopir
berseragam, pakaian yang ia kenakan pun bermerk mahal dan lain-lain. Karena hal
itu tak sedikit dari teman-temannya iri tehadap keberuntunganya .Namun, ia
sendiri merasa dirinya orang yang paling tidak beruntung. Walau pun ia memiliki
teman, namun saat itu ia enggan menceritakan masalahnya kepada teman-temannya Karena
ia ragu kalau-kalau temannya menceritakan
masalahnya kepada orang lain. Ketika perasaan itu terus tergambar dalam wajah dan
tingkah lakunya, seorang guru BK masuk. Ia memberi layanan klasikal yang baru
1x dikelas mereka. Diakhir sesi guru BK tersebut berkata “oke anak-anak…
sekian materi dari ibu. Semoga ilmu yang kita dapat hari ini bisa bermanfaat
yah… dan jika kalian memiliki sesuatu hal yang ingin diceritakan baik itu
masalah sekolah, beasiswa, teman, pacar (hehe), atau pun masalah dengan
keluarga jangan sungkan-sungkan untuk datang keruang ibu, yah… see you next
time, wassalamu’alaikum wr.wb”.
Mendengar kata-kata itu putri merasa mendapatkan jawaban hendak kemana
ia bertanya tentang masalahnya.
Saat bel pulang berbunyi (12.15) putri berjalan kearah ruang BK.
Sesampainya di depan ruang BK putri tidak lang kakinya langsung masuk. Ia malah
bolak-balik didepan ruang BK, ia menundukkan kepalanya dengan wajahnya muram
terbesit keraguan dalam hatinya. Guru konselor yang ketika itu berada didalam
ruangan melihat gelagat putri yang aneh dari dan kemudian menghampirinya.
B.
PERCAKAPAN KONSELING
|
KONSELOR
|
KONSELI
|
KETERANGAN
|
|
“assalamu’alaikum”
(sambil
memegang bahu putri dan
tersenyum
ramah)
|
|
(
Attending )
|
|
|
“wa’alaikumsalam
bu… “ mencium tangan konselor, konseli kaget sembari tersenyum
|
|
|
“sedang
apa neng, mondar mandir didepan ruang ibu?” Konselor tersenyum
ramah
|
|
|
|
|
“Ah,,,
tidak apa-apa bu…” Tersenyum malu-malu
|
|
|
“Mari
masuk…”
Konselor
mengajak konseli untuk masuk ke ruangannya
|
|
|
|
|
“baik
bu…”
mengikuti
masuk kedalam ruang konselor
|
|
|
“Silahkan
duduk…”
mempersilahkan duduk di kursi yang terletak disebuah sudut
dekat jendela. Badannya ditegapkan,tangannya terkepal renggang di atas
kakinya, dengan tatapannya yang rileks namun penuh perhatian dan senyum ramah
yang tersimpul dibibirnya
|
|
.
|
|
|
“Terimakasih
bu…”
mengikuti guru konselor dan duduk dikursi yang
satunya. Mereka berdua hanya dibatasi dengan sebuah meja kecil dengan vas
bunga diatasnya
|
|
|
“Boleh
ibu tahu, namamu siapa?”
|
|
|
|
|
“Putri
Mahardika, XI IPS 1, bu”
Tetap
menundukan kepala dan pandangannya
|
|
|
“Oh…
putri, kenapa dari tadi menunduk saja neng? “
ceria
|
|
|
|
|
“tidak
apa-apa bu…” mengelengkan kepalanya dan tersenyum takut, mencoba tegar
|
|
|
“ada
yang bisa ibu bantu?” Sedikit menyondongkan, badan
kearah konseli, tersenym ramah
|
|
(open
to talking with open question)
|
|
|
“hum…. terkadang
saya agak iri dengan teman-teman saya”
menghelas napas panjang yang sangat berat
dan berpura-pura tegar, menunduk dan kaki satu kaki digerakan
|
.
|
|
“oh, iri?”
mengerutkan
kening dan mengangguk-angguk
|
|
(Minimal
encourage)
|
|
|
“Iya bu,,
terkadang….”
Sedih
|
|
|
“Iri
kenapa? coba ceritakan pada ibu…”
Tersenyum
ramah
|
|
(Tell more)
|
|
|
“Begini
bu, mereka mempunyai orangtua yang perhatian . Kalau mereka salah, mereka
dimarahin, kalau mereka belum pulang, mereka dicariin”.
Menundukan
pandangan
|
|
|
“Hm..m..
jadi kamu ingin diperlakukan seperti itu oleh kedua orangtuamu? “
menggerakkan
tangan, dan menyipitkan mata
|
|
(Paraphrasing)
|
|
|
“Iya
bu… tapi orangtua saya agak acuh terhadap saya. Mereka hanya mementingkan
mencari uang dari pada saya dan adik saya. “
Menunduk
sedih, agak kesal
|
|
|
“Nampaknya
kamu kecewa dengan kedua orangtua mu?”
menyipitkan mata
|
|
(Identifikasi
Masalah /feelling of identification)
|
|
|
“Iya
bu… “
Muram
|
|
|
“apakah
kamu berharap orangtuamu melakukan hal seperti itu kepada kamu dan adikmu?”
|
|
(Merefleksikan
perasaan/ feelling of reflection)
|
|
|
“Iya bu,
sangat ingiiiin sekali orangtua saya begitu. “
Tersenyum (konseli
senang karena perasaannya dimengerti oleh orang lain.) agak merengek
|
|
|
“Tapi,
bukannya dimarahin itu tidak enak?”
mengangkat
alis dan menatap dengan tatapan introgasi
|
|
(konfrontasi
/ confrontasy) .
|
|
|
“Iya
sih bu… tapi bu, tapi saya itu pengen ngerasain dimarahin, dilarang melakukan
sesuatu.”
Sedikit
merengek
|
|
|
“Oh…
begitu… jadi selama ini kamu merasa orangtuamu kurang memperhatikan kamu dan
adikmu?”
|
|
(Summarization)
|
|
|
“Iya
bu…jadi saya harus bagaimana bu… ? saya pernah mancing-mancing mereka sih bu…
saya pernah ngebut-ngebutan dijalan dan terluka. Saya pernah pulang sampai larut malam
hampir jam 12. Tapi.. mereka diam saja mereka hanya bilang “kamu sudah besar.
Kamu sudah bisa ngatur diri kamu sendiri” gitu bu….”
Bercerita
tentang keingingannya
|
|
|
“Iya… jadi
kamu ingin orangtuamu menunjukan perhatiannya kekamu itu langsung?”
|
|
|
|
|
“Iya
bu…”
|
|
|
“Hmm.mm…
iya putri ibu mengerti kok… tapi, kita tidak boleh suudzon terhadap orang
lain, apalagi dengan kedua orangtua kita. Kita harus husnudzon. Mungkin
menurut orangtua putri menunjukan kasih sayang dan perhatian ke putri dan
adik putri itu dengan cara memenuhi segala kebutuhan putri. Coba putri lihat
teman-teman putri. Mungkin Ada diantara mereka yang tidak pernah
makan-makanan enak, tidak punya baju yang bagus dan up todate, tidak bisa
sekolah bahkan. Bearti putri termasuk orang yang beruntungkan?”
Memberi
sedikit pengarahan. Menggerakan tangan dan senyum ramah
|
|
|
|
|
“Iya
bu, makasih, saya sedikit paham sekarang”
Mengangguk,
tersenyum dan ceria
|
|
|
“Karena
putri sudah paham, bearti sekarang putri sudah tahu apa yang harus putri
lakukan agar orangtua putri dapat memberikan perhatian seperti yang putri
inginkan”
|
|
|
|
|
“Iya
bu, terimakasih atas bantuannya. Saya mohon diri bu…”
Tersenyum
gembira dan bangkit dari kursinya
|
.
|
|
“Iya
sama-sama. Jangan sungkan untuk datang kesini. Ajak temen-temennya.”
Bangkit dari tempat
duduk dan mengantarkan konseli ke ambang pintu
|
|
|
|
|
“Iya bu,
permisi. Assalamu’alaikum”
Tersenyum,
membungkukan badan dan mencium punggung tangan konselor
|
.
|
|
“Wa’alaikumsalam
wr.wb. hati-hati dijalan” Tersenyum . dan konseli mengangguk.
|
|
|

.jpg)