MAKALAH
KONSEP BIMBINGAN
KONSELING KELUARGA DAN MASYARAKAT
Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah BK keluarga dan masyarakat
Di ampuh oleh : Drs.H.Rusydi,MM.
Di susun oleh: Kelompok 5 semester VI
Iis Istiqomah (862010111006)
Karimah (862010111008)
Opik Lukmansyah (862010111009)
Ahmad Fauzi (862010111001)
BIMBINGAN KONSELING ISLAM (BKI)
FAKULTAS AGAMA ISLAM (FAI)
UNIVERSITAS WIRALODRA INDRAMAYU
2014
+++
+
+
+
+
+
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
barokahnya kepada kami sehingga kami dapat menyusun makalah. Shalawat beserta
salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan cahaya yang terang
benderang akan menerangi alam semesta hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada semester VI dalam
matakuliah Bimbingan Konseling Keluarga Dan Masyarakat
yang diampuh oleh Bapak Drs.H.Rusydi.M.M. dengan judul makalah Konsep Bimbingan Konseling Keluarga.
Kami menyadari didalam makalah ini terdapat kesalahan dan
kekhilafan. Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca sekalian kami nanti
demi kebaikan makalah-makalah kami selanjutnya. Terutama dari dosen pengampuh.
Terimakasih kami ucapkan kepada kedua orangtua kami, kepada
teman-teman kami, sumber referansi kami, dosen pengampuh mata kuliah dan
seluruh pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama kita sebagai mahasiswa penerus
bangsa.
Indramayu, Mei 2014
penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………….............................................................. i
DAFTAR ISI...
............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN…........................................................................ 1
1.1
Latar
Belakang .............................................................................. 1
1.2
Rumusan
Masalah.......................................................................... 1
1.3
Tujuan
Penulisan............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 3
2.1
Konsep BK Keluarga................................................................... 3
2.2
Pengertian BK Kelurga……………………………………...…. 3
2.3
Tujuan BK Keluarga ................................................................... 4
2.4
Tahapan-Tahapan BK Keluarga…………..……….................... 5
2.5
Teknik-teknik BK
Keluarga........................................................ 6
2.6
Jenis-Jenis BK
Keluarga............................................................. 7
2.7 Pihak – Pihak Yang Melaksanakan Bimbingan Konseling
Dalam
Keluarga......................................................................... 8
BAB III PENUTUP..................................................................................... 10
3.1
Kesimpulan........................................................................................ 10
3.2
Kritik
dan
Saran................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA
................................................................................. 11
+
+
+
+
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dengan populasi yang beragam maka ciri problem manusia pun meluas.
Oleh karena itu, diperlukan konselor sebagai profesi penolong (helping
profession). Konselor diharapkan dapat membantu problema-problema masyarakat
saat yang makin meluas sehingga dapat membantu masyarakat untuk mengembangkan
potensi masyarakat mandiri. Dengan berkaca dari hal tersebut, maka diperlukan
konselor dalam bidang bimbingan dan konseling pernikahan dan keluarga,
keagamaan, lingkungan pekerjaan, serta pula untuk lanjut usia.
Objek kajian dari layanan bimbingan konseling keluarga adalah
manusia. Semua manusia adalah objek kajian pemberian layanan bimbingan
konseling. Baik usia dewasa, remaja, bahkan anak-anak pun termasuk didalamnya.
Organisasi terkecil dalam kehidupan manusia adalah keluarga. Walaupun hanya
tertera nama dirinya dalam surat keluarga. Karena keluarga merupakan bagian
terkecil dari masyarakat.
Masyarakat yang menginginkan hidup aman, tentram dan damai tanpa
gangguan, maka bagi tiap manusia perlu adanya suatu “tata”. Tata itu berwujud
aturan-aturan yang menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam
pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan
terjamin. Setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing.
Tata itu lazim disebut kaidah (berasal dari bahasa Arab) atau norma (berasal
dari bahasa Latin) atau ukuran-ukuran. Norma-norma itu mempunyai dua macam isi,
dan menurut isinya berwujud: perintah dan larangan. Apakah yang dimaksud perintah
dan larangan menurut isi norma tersebut? Perintah merupakan kewajiban bagi
seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik.
Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat
sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.
Apa
yang dimaksud dengan bimbingn konseling masyarakat?
2.
Apa
yang dimaksud dengan bimbingan konseling keluarga?
3.
Apasajakah
yang termasuk bimbingan konseling masyarakat?
4.
Bagaimana
tahapan pemberian layanan BK keluarga?
5.
Apasajakah
teknik-teknik yang digunakan dalam memberikan layanan BK keluarga?
C.
Tujuan Penyusunan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam rumusan masalah juga memiliki tujuan
sebagai berikut:
1.
Memahami
pentingnya bimbingan konseling di masyarakat.
2.
Memahami
bagaimana cara memberi layanan bimbingan konseling keluarga, dan
3.
Menambah
wawasan tentang pemberian layanan bimbingan konseling keluarga
BAB II
PEMBAHASAN
- Bimbingan Konseling Masyarakat
1.
Pengertian BK masyarakat
Bimbingan (Prayitno dan Erman Amti; 2004:99)
adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan orang yang ahli kepada seseorang
atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa; agar orang
yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri,
dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat
dikembangkan; berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Konseling (Prayitno dan Erman Amti; 2004: 105)
adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh
seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu
masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh
klien.
Sekelompok manusia bisa disebut sebagai suatu masyarakat apabila
mempunyai pemikiran, perasaan, serta sistem atau aturan yang sama. Jadi, masyarakat
adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu
kebudayaan yang mereka anggap sama (m.artikata.com).
Bimbingan konseling masyarakat adalah upaya pemberian bantuan
kepada anggota masyarakat agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang
dihadapinya sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan
sistem-sistem, aturan-aturan dan program-program yang ada.
2.
Macam-macam BK Masyarakat
a.
BK
pernikahan dan keluarga
Pernikahan dan keluarga merupakan rentetan alur dimana sebelum
memasuki area keluarga, maka adanya pasangan laki-laki dan perempuan sebagai
calon mempelai laki-laki atau perempuan melakukan tahap penyesuaian diri. Tahap
ini disebut tahap pra nikah. Sebelum adanya keluarga diawali dengan pra nikah,
kemudian masuk pada area pernikahan baru terbentuknya keluarga kecil yang
terdiri dari suami dan istri. Dalam keluarga kecil akan lahirnya anak dalam
keluarga melengkapi keluarga tersebut.
Menurut Gibson and Mitchell (2011:178), menyatakan bahwa stress
terbesar yang muncul selama proses perceraian dialami anak, dan penyesuaian
semua pihak sesudahnya harus bisa terdokumentasikan dengan baik hingga
mencangkup sejumlah problem seperti perasaan gagal yang sering menyertai
perceraian, dan juga emosi-emosi negatif lain seperti marah, menyesal, atau
depresi. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa hasil dari perceraian saat
proses ataupun setelah terjadi perceraian adalah masalah-masalah yang dialami
anak. Anak akan tinggal dengan salah satu orang tua kemudian menimbulkan
tekanan bagi dirinya untuk menyesuiakan diri. Masalah semakin kronis jika anak
pada tahap stress dan mengucilkan diri dari masyarakat dan lingkungannya.
Dari keterangan tersebut diperlukannya bimbingan dan konseling di
dalam pernikahan dan keluarga dengan konselor sebagai pelaksanya agar hal-hal
tersebut dapat diatasi ataupun mencegah problem-problem yang muncul dalam
lingkungan pernikahan maupun keluarga. Akan tetapi, bantuan konseling yang
efektif bagi keluarga dan pasangan di masyarakat yang kompleks dan penuh
tantangan sehingga dirasa sulit.
b.
BK
keagamaan
Ada 5 agama yang di sah kan oleh pemerintah Indonesia mengenai
agama yang dianut. Agama yang disahkan adalah Islam, Katolik, Kristen, Budha
dan Hindu. Adapula agama yang berkembang di Indonesia tetapi tidak sah yaitu
konghucu dan sebagainya. Karena itu Indonesia disebut sebagai negara
multiKultur.
Perbedaan agama di Indonesia juga berpengaruh pada perbedaan
masalah yang dialami oleh tiap manusia. Perbedaan agama juga dapat menimbulkan
masalah pula. Oleh karena itu perlu adanya konselor sebagai profesi untuk
membantu individu/ masyarakat mengembangkan potensi dan memandirikannya. Dengan
keanekaragaman agama membuat konseling juga memiliki ragam. Ragam konseling
dalam keagamaan yaitu:
1)
Konseling
Islami: suatu usaha membantu individu
dalam menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama yang dimilikinya,
sehingga ia kembali menyadari peranannya sebagai khalifah dibumi dan berfungsi
untuk menyembah kepada Allah swt., sehingga akhirnya tercipta kembali hubungan
baik dengan Allah, manusia dan alam semesta.
2)
Konseling Pastoral:
suatu interpersonal relationship, suatu dialog (dan bukan monolog) yang terjadi
antara pendeta dan konselinya, yang bisa melibatkan, seluruh aspek kehidupan
mereka masing-masing. Sebagai konselor, pendeta tidak hadir sebagai pengkotbah
di atas mimbar di dalam gereja pada konselinya tetapi juga berhadapan muka
dengan konselinya sebagai dua pribadi yang utuh, yang masing- masing punya hak
(dan kebebasan) untuk mengekspresikan dirinya.
3)
Konseling
Agama Budha:
4)
Konseling
Agama Hindu:
c.
BK
di lingkungan pekerjaan
Konselor pekerjaan mengemban kewajiban konseling yang memenuhi
standar minimum klasifikasi konselor pekerjaan. Konselor pekerjaan
dipersyaratkan untuk memiliki kemampuan dalam memberikan tes kerja dan
menginterpretasikan hasilnya didalam sistem kompensasi untuk mereka yang masih
belum bekerja.
Fokus dari konselor pekerjaan adalah penempatan yang benar klien
bekerja. Konselor diharapkan dalam prosesnya melakukan konseling problem
pribadi dan membantu mereka mengembangkan sikap, keterampilan, dan kemampuan
yang tepat yang akan membantu mereka lulus wawancara kerja. Dengan demikian
para konselor terlibat dalam pengumpulan data dari klien dalam pemberian dan
penginterpretasikan tes-tes standar.
d.
BK
lanjut usia
Fungsi tubuh yang menurun, kesehatan yang bermasalah, dikucilkan
kurang perhatian adalah beberapa masalah yang dialami oleh orang yang berusia
lanjut. Dari semua masalah tersebut ada masalah yang paling pokok yaitu
kesepian. Saat usia muda sering disibukkan dengan rutinitas kerja kemudian pada
masa lanjut usia mereka menganggap bahwa hidup terasa hambar karena kurang
produktif. Sehingga kesepeian adalah problem utama yang dihadapi banyak lansia,
dan dari situ rasa kesepian menguatkan perasaan negatif lainnya seperti tidak
berharga, tidak berdaya, frustasi, tidak bermakna, dan sebagainya. Dan problem
krisis usia senja ini makin diperburuk jika mereka mengalami nasib kehilangan
orang-orang dikasihi seperti istri/ suami yang meninggal, anak yang meninggal
atau sibuk dengan hidup diluar kota, teman-teman, tetangga, dan kerabat yang
lainnya (Gibson and Mitchell, 2011:181).
Pada masa usia lanjut ini, mereka tidak ingin diabaikan. Mereka
sering menuntut pada pemerintah,
masyarakat atau konselor terhadap kebutuhannya. Tuntutan kebutuhan mereka
seperti pelayanan bagi usia mereka yang sering terabaikan dengan layanan lain.
Oleh karena itu, bimbingan dan konseling adalah salah satu sosok
tepat bagi usia lanjut. Layanan-layanan bimbingan dan konseling dengan
pendekatan-pendekatan yang tepat dapat membantu para lanjut usia untuk
memperoleh tujuan hidup mereka yang membuat mereka mandiri. Karena sering
terjadi masalah seperti stres, depresi, dan alkoholisme adalah simtom umum yang
dihadapi oleh para konselor gerontologi, dan untuk menanganinya, mereka harus
menggali akar problem dan menyembuhkan hatinya (Gibson and Mitchell, 2011:181).
A. Bimbingan Konseling Keluarga
1. Konsep BK Keluarga
Adapun konsep dasar dari pelayanan konseling
keluarga adalah untuk membantu keluarga menjadi bahagia dan sejahtera dalam
mencapai kehidupan efektif sehari-hari. Konseling keluarga merupakan suatu
proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai kondisi psikologis
yang serasi atau seimbang sehingga semua anggota keluarga bahagia. Ikatan
bathin merupakan ikatan yang bersifat psikologis.
2. Pengertian BK Keluarga
Keluarga (Departemen kesehatan RI:1988) merupakan
unit terkecil dari masyarakat yang
terdiri dari kepala keluarga dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
Jadi, Bimbingan Konseling Keluarga adalah Proses
upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik
dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta
mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
3. Tujuan BK keluarga
a.
Tujuan
Umum
Tujuan umum dari konseling keluarga pada
hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional yang bertujuan untuk
mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1.
Membantu anggota keluarga belajar dan memahami
bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga.
2.
Membantu
anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota
keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada
persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.
3.
Upaya
melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan
tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.
4.
Mengembangkan
rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga
yang lain.
5.
Membantu
anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi
maksimal.
b.
Tujuan
Khusus
Tujuan khusus konseling keluarga adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
meningkatkan toleransi dan dorongan anggota – anggota keluarga terhadap cara –
cara yang istimewa atau keunggulan anggota – anggota lain.
2.
Mengembangkan
toleransi terhadap anggota – anggota keluarga yang mengalami frustasi / kecewa, konflik, dan
rasa sedih yang terjadi karena faktor sistem keluarga atau diluar sistem
keluarga.
3.
Mengembangkan
motif dan potensi – potensi setiap anggota keluarga dengan cara
mendorong,memberi semangat, dan mengingatkan anggota tersebut.
4.
Mengembangkan
keberhasilan persepsi diri orang tua secara realistik dan sesuai dengan anggota
– anggota lain.
4. Tahapan-tahapan BK keluarga
Tahap-tahap yang dipakai saat memberikan layanan bimbingan
konseling keluarga adalaha:
1.
Tahap persiapan:
a.
Mengembangkan
hubungan yang baik (good report) antar terapis dan keluarga.
b.
Mengembangkan
penghargaan emosional terhadap hubungan dalam keluarga, dinamika dan
permasalahannya.
2.
Tahap
pelaksanaan
a.
Mengembangkan
alternatif pemecahan masalah.
b.
Membahas/
mendiskusikan setiap alternatif pemecahan masalah.
3.
Tahap
akhir /penutup
Menerapkan salah satu alternatif pemecahan yang telah dipilih oleh
keluarga.
Adapun tata cara pelaksanaan bimbingan dalam
keluarga, diantaranya :
1.
Kenali pribadi individu terlebih dahulu,
kenali karakter dan masalah – masalah yang sedang dihadapi individu (anggota
keluarga) tersebut.
2.
Lakukan pendekatan, dengan pendekatan dan
mendengar keluh kesah anggota tersebut ia mungkin akan merasa lebih aman untuk
mencurahkan isi hatinya.
3.
Beri selang waktu agar anggota keluarga
tersebut memiliki waktu luang yang tepat untuk menceritakan masalah/petentangan
batinnya.
4.
Ciptakan suasana yang senyaman (kondusif)
mungkin bagi individu, atau anda dapat menggunakan ruangan khusus yang
diberikan aroma terapi.
5.
Hindari emosi dan rasa curiga serta rasa ingin
tahu yang berlebihan. Terkadang orang merasa jengkel jika seseorang ingin tahu
apa saja yang terjadi dalam dirinya secara berlebihan dan memaksakan.
6.
Jika individu/anggota keluarga tersebut
membutuhkan nasihat atau kritik yang membangun maka berilah. Namun jangan
berlebihan sehingga terkesan menggurui.
7.
Berikan motivasi dan bangkitkan rasa percaya
dirinya dengan memberikan contoh yang dapat menjadi teladan.
8.
Sedapat mungkin bantulah ia mencari
solusi/jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya.
9.
Berikan pujian jika hal ini memang dibutuhkan.
10.
Gunakan media yang dapat membantu anda untuk
memberikan arahan agar individu dapat memecahkan masalahnya.
11.
Konsultasi dengan pihak – pihak terkait atau
orang yang lebih ahli dalam menangani individu tersebut.
12.
Rahasiakan masalah/konflik yang terjadi dalam
diri individu/anggota keluarga tersebut.
13.
Bimbingan tidak dapat dilakukan dengan jalan
pintas atau backstreet dan ditinggalkan begitu saja, tapi harus
dilakukan secara berkala.
5. Teknik-Teknik BK keluarga
a. Tekhnik Umum
1. Perilaku attending :Perilaku attending yang baik dapat meningkatkan harga diri
klien,menciptakan suasana yang nyaman dan mempermudah ekspresi perasaan klien
dengan bebas.
2. Eksplorasi : Teknik untuk menggugah perasaan, pikiran, dan
pengalaman klien. Hal ini penting di
lakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak
mampu mengemukakan pendapatnya.
3. Menangkap pesan (paraphrasing) : Teknik untuk menyatakan kembali inti
ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan
kalimat yang mudah dan sederhana.
4. Pertanyaan terbuka : Teknik memancing klien agar mau berbicara
mengungkapakan perasaan,pengalaman dan pemikirannya
5.
Empati : Kemampuan konselor untuk merasakan apa yang di rasakan
oleh klien merasa dan berfikir bersama klien.
6. Refleksi : Teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang
perasaan dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan
non-verbal.
b. Tekhnik khusus
Teknik teknik khusus yang di kembangkan dari
berbagai pendekatan konseling seperti pendekatan behaviorisme, rasional emotif,
latihan asertif, pembentukan perilaku model, permainan dialog dan bermain
peran.
6.
Pendekatan-Pendekatan BK Keluarga
Pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan BK
keluarga adalah:
a.
Diagnosis
dan Konseling Keluarga oleh Ackerman
Tekanan teori ini pada kejadian yang sederhana dan kausal.
Keluarga-keluarga yang mengalami masalah memahami bahwa di dalam keluarga
tersebut sedang ada kekacauan. Sehingga diagnosis dan putusan dari pemecahan
masalah harus ditanggapi oleh seluruh anggota keluarga.
b.
Konseling
Keluarga secara bersama-sama oleh Sair
Pada teori ini, dituntut agar suami dan istri hadir pada wawancara
konseling di pertemuan pertama sehingga akan diketahui kebutuhan-kebutuhan
suami dan istri dalam rangka menggali infromasi tentang masalah yang sedang
dialami. Dalam konseling ini, seluruh anggota keluarga harus berperan serta
menyelesaikan masalah dari suami, istri dan anak-anak. Konselor harus mampu
mengerti dan menerima kondisi keluarga tersebut terutama pada anak-anak.
c.
Konseling
Keluarga berdasarkan Triad
Triad mengembangkan konseling keluarga berdasarkan hubungan antara
3 orang atau lebih dalam keluarganya, yaitu:
1)
Antara
anak – ibu – anak
2)
Antara
anak – ayah – anak
3)
Antara
ayah – anak – ibu
Karena adanya pertentangan dalam keluarga melibatkan 2 orang atau
lebih, maka konselor harus bisa menadi penengah.
d.
Konseling
Kelompok Keluarga oleh Bell
Bell mementingkan konseling agar memfungsikan pentingnya hubungan
dalam keluarga sebagai cara untuk memperkuat hubungan sebagai suatu kelompok.
Peningkatan komunikasi keluarga sebagai cara yang paling baik untuk pemecahan
masalah keluarga dengan beberapa ajaran sebagai berikut:
1)
Sifat
yang lebih fleksibel
2)
Lebih
terbuka
3)
Langsung
4)
Jelas
dalam berkomunikasi
5)
Disiplin
e.
Konseling
Tingkah Laku Keluarga oleh Liberman
Konseling ini menekankan pada kesepakatan antara pribadi (konselor
dan anggota keluarga) untuk mengubah problema tingkah laku yang lebih sesuai.
Tetapi perlu keuletan dari konselor.
f.
Konseling
Dampak Ganda oleh Gregor
Konseling ini dengan melihat terlebih dahulu gangguan atau krisis yang
dialami pada masa remajanya. Konseling ini melibatkan orang-orang yang ada
hubungannya dengan keluarga (saudara, tetangga, teman, dll). Proses pertemuan
ini dengan pertemuan antara konselor, klien, keluarganya dan orang-orang yang
berkaitan kemudian diwawancara dan diskusi bersama.
g.
Campur
Tangan Jaringan Sosial oleh Speck
Speck menjelaskan bahwa keterlibatan seluruh anggota keluarga yang
bermasalah yang kira-kira berjumlah 40 orang. Kemudian salah satu diantara
mereka dipilih sebagai pemimpin jaringan sosial yang memiliki kharisma,
perasaan, peka terhadap kelompok, empati, dan perasaan terhadap suasana hati
kelompok. Sehingga tercipta perasaan kesatuan dan rasa memiliki antar keluarga.
7. Jenis-Jenis Bimbingan Keluarga
Jenis bimbingan
yang biasanya dilakukan didalam keluarga diantaranya:
1.
Bimbingan
Belajar
Bimbingan
belajar merupakan proses untuk membantu anak mengatasi kesulitan belajarnya.
Orang tua dalam hal ini berperan mengajarkan dan membimbing, bukan mengerjakan
tugas si anak.
2.
Bimbingan
Ibadah/Agama
Dengan adanya
bimbingan ini, anggota keluarga dapat mengenal agamanya sendiri, kaidah ataupun
ajaran yang berlaku dalam agamanya sehingga memungkinkan untuk lebih
mendekatkan diri kepada yang kuasa.
3.
Bimbingan
Akhlak
Secara umum
bahwa akhlak dapat disamakan dengan budi pekerti, perangai atau kepribadian
dari hal tersebut setiap individu berangkat dalam mempertahankan jati diri dari
kesewenangan-wenangan individu lainnya, akhlak dapat mencerminkan kepribadian
sekaligus dapat menggambarkan karakteristik untuk senantiasa dibina demi
mempertahankan citra diri dan keluarga serta masyarakat sekitarnya.
4.
Bimbingan
Orientasi
Bimbingan
orientasi ini dimaksudkan untuk memberi arah atau gambaran kepada anggota
keluarga dalam kehidupan. Misalnya membimbing anak dalam mencapai cita – cita
dan keinginannya.
5.
Bimbingan
Konseling Penyelesaian Masalah
Jika anggota
keluarga mengalami masalah, jangan memarahinya. Karena hal ini akan memperburuk
keadaan. Usahakan untuk membantu anggota keluarga mencari jalan keluar dari masalah
yang sedang dihadapinya.
6.
Bimbingan
Keterampilan Hidup
Bimbingan keterampilan
hidup (lifeskillscounseling) disebut juga lifeskills helping (LSH)
atau lifeskills therapy merupakan “suatu pendekatan yang integratif
untuk membantu klien agar mampu mengembangkan keterampilan membantu dirinya
sendiri (self-helping)”.
7. Pihak – Pihak Yang Melaksanakan Bimbingan Konseling Dalam
Keluarga
Pihak – pihak
yang melaksanakan bimbingan dalam keluarga adalah orang yang paling mengerti
dan memahami karakter anggota keluarga. Adapun pihak – pihak yang dapat
melaksanakan bimbingan dan konseling dalam keluarga, diantaranya :
1.
Ayah/ibu
(suami/istri)
Ayah/ibu adalah
tumpuan utama keluarga, tanpa adanya ayah dan ibu suatu keluarga tidak mungkin
terbentuk. Ayah dan ibu adalah unit utama yang dapat mempengaruhi perilaku
anaknya.
2.
Paman/bibi
Paman/bibi ini
adalah kerabat dari pihak ayah maupun ibu. Peran paman/bibi hampir sama dengan
peran orang tua, walaupun terkadang terdapat perbedaan diantaranya.
3.
Kakek/nenek
Kakek/nenek
adalah pihak yang juga memiliki peranan penting dalam melaksanakan bimbingan,
karena anak pada umumnya lebih dekat kepada kakek/nenek dibandingkan ayah/ibu,
terutama ayah/ibu yang sibuk dengan karirnya.
4.
Kerabat dekat
Kerabat dekat
ini biasanya lebih dikenal dengan sepupu. Anggota keluarga bisanya lebih suka
mencurahkan isi hatinya kepada sepupu karena biasanya sepupu memiliki
umur/sebaya dengan mereka, yang dianggap lebih memahami kondisi anggota
keluarga tersebut.
5.
Mertua
Mertua berasal
dari ayah/ibu pihak suami/istri. Walaupun ada anggapan ‘mertua galak’ namun
tidak semuanya seperti itu. Mungkin saja mertua dapat membantu anda dalam
menyelesaikan masalah di keluarga anda karena lebih memahami karakter
menantu/anaknya sendiri.
6.
Konselor diluar
keluarga
Konselor diluar
keluarga adalah orang ahli yang didatangkan di luar sistem keluarga namun telah
dipercaya oleh keluarga tersebu untuk membantu menyelesaikan problematika yang
terjadi didalam keluarganya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bimbingan Konseling Keluarga adalah Proses
upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik
dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta
mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
Bimbingan konseling keluarga dapat dilakukan
oleh anggota keluarga itu sendiri namun jika masih belum ditemukan titik
permasalahannya maka konselor dari luar anggota keluarga boleh dilibatkan.
B. Kritik Dan Saran
Semua masalah dapat diselesaikan dengan
caranya masing-masing. Hasilnya pun bergantung dari usaha pemecahan yang di
ambil oleh anggota dalam keluarga tersebut. Sebelum masalah intern keluarga itu
di selesaikan oleh pihak lain (orang diluar anggota keluarga yang memiliki
masalah) maka usahakan masalah tersebut diselesaikan oleh anggota keluarga
dahulu (konselor pribadi).
DAFTAR PUSTAKA
http://allamandakathriya.blogspot.com/2012/04/program-bimbingan-konseling-dalam.html
http://freesri.wordpress.com/konseling-keluarga/konseling-keluarga/
http://r-doc.blogspot.com/2010/11/teknik-teknik-dalam-bimbingan-dan.html
http://saputraeddy002.blogspot.com/2012/11/bimbingan-dan-konseling-keluarga.html
Prof.DR.H.Pratitno, M.Sc.,Ed. Dan Drs.
Erman Amti; cetakan kedua Dasar-Dasar Bimbingan Dan Koseling; PT Rineka
Cipta; Jakarta; 2004

Tidak ada komentar:
Posting Komentar