Selasa, 10 Juni 2014

MAKALAH
KONSEP BIMBINGAN KONSELING KELUARGA DAN MASYARAKAT
Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah BK keluarga dan masyarakat
Di ampuh oleh : Drs.H.Rusydi,MM.

Di susun oleh: Kelompok 5 semester VI
Iis Istiqomah               (862010111006)
Karimah                      (862010111008)
Opik Lukmansyah       (862010111009)
Ahmad Fauzi              (862010111001)

BIMBINGAN KONSELING ISLAM (BKI)
FAKULTAS AGAMA ISLAM (FAI)
UNIVERSITAS WIRALODRA INDRAMAYU

2014
+++
+
+
+
+
+
KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan barokahnya kepada kami sehingga kami dapat menyusun makalah. Shalawat beserta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan cahaya yang terang benderang akan menerangi alam semesta hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada semester VI dalam matakuliah Bimbingan Konseling Keluarga Dan Masyarakat yang diampuh oleh Bapak Drs.H.Rusydi.M.M. dengan judul makalah Konsep Bimbingan Konseling Keluarga.
Kami menyadari didalam makalah ini terdapat kesalahan dan kekhilafan. Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca sekalian kami nanti demi kebaikan makalah-makalah kami selanjutnya. Terutama dari dosen pengampuh.
Terimakasih kami ucapkan kepada kedua orangtua kami, kepada teman-teman kami, sumber referansi kami, dosen pengampuh mata kuliah dan seluruh pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama kita sebagai mahasiswa penerus bangsa.
Indramayu,      Mei 2014


penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………..............................................................           i
DAFTAR ISI... ............................................................................................ ii         
BAB I PENDAHULUAN…........................................................................            1
1.1  Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah.......................................................................... 1
1.3  Tujuan Penulisan............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 3
2.1  Konsep BK Keluarga................................................................... 3
2.2  Pengertian BK Kelurga……………………………………...…. 3
2.3  Tujuan BK Keluarga ................................................................... 4
2.4  Tahapan-Tahapan BK Keluarga…………..………....................  5
2.5  Teknik-teknik BK Keluarga........................................................  6
2.6  Jenis-Jenis BK Keluarga.............................................................  7
2.7  Pihak – Pihak Yang Melaksanakan Bimbingan Konseling
 Dalam Keluarga.........................................................................  8
BAB III PENUTUP..................................................................................... 10
3.1  Kesimpulan........................................................................................ 10
3.2  Kritik dan Saran................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................            11
 +
+
+
+


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dengan populasi yang beragam maka ciri problem manusia pun meluas. Oleh karena itu, diperlukan konselor sebagai profesi penolong (helping profession). Konselor diharapkan dapat membantu problema-problema masyarakat saat yang makin meluas sehingga dapat membantu masyarakat untuk mengembangkan potensi masyarakat mandiri. Dengan berkaca dari hal tersebut, maka diperlukan konselor dalam bidang bimbingan dan konseling pernikahan dan keluarga, keagamaan, lingkungan pekerjaan, serta pula untuk lanjut usia.
Objek kajian dari layanan bimbingan konseling keluarga adalah manusia. Semua manusia adalah objek kajian pemberian layanan bimbingan konseling. Baik usia dewasa, remaja, bahkan anak-anak pun termasuk didalamnya. Organisasi terkecil dalam kehidupan manusia adalah keluarga. Walaupun hanya tertera nama dirinya dalam surat keluarga. Karena keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat.
Masyarakat yang menginginkan hidup aman, tentram dan damai tanpa gangguan, maka bagi tiap manusia perlu adanya suatu “tata”. Tata itu berwujud aturan-aturan yang menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin. Setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Tata itu lazim disebut kaidah (berasal dari bahasa Arab) atau norma (berasal dari bahasa Latin) atau ukuran-ukuran. Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud: perintah dan larangan. Apakah yang dimaksud perintah dan larangan menurut isi norma tersebut? Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan bimbingn konseling masyarakat?
2.      Apa yang dimaksud dengan bimbingan konseling keluarga?
3.      Apasajakah yang termasuk bimbingan konseling masyarakat?
4.      Bagaimana tahapan pemberian layanan BK keluarga?
5.      Apasajakah teknik-teknik yang digunakan dalam memberikan layanan BK keluarga?

C.    Tujuan Penyusunan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam rumusan masalah juga memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Memahami pentingnya bimbingan konseling di masyarakat.
2.      Memahami bagaimana cara memberi layanan bimbingan konseling keluarga, dan
3.      Menambah wawasan tentang pemberian layanan bimbingan konseling keluarga








BAB II
PEMBAHASAN

  1. Bimbingan Konseling Masyarakat
1.      Pengertian BK masyarakat
Bimbingan (Prayitno dan Erman Amti; 2004:99) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan; berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Konseling (Prayitno dan Erman Amti; 2004: 105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
Sekelompok manusia bisa disebut sebagai suatu masyarakat apabila mempunyai pemikiran, perasaan, serta sistem atau aturan yang sama. Jadi, masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama (m.artikata.com).
Bimbingan konseling masyarakat adalah upaya pemberian bantuan kepada anggota masyarakat agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan sistem-sistem, aturan-aturan dan program-program yang ada.
2.      Macam-macam BK Masyarakat
a.       BK pernikahan dan keluarga
Pernikahan dan keluarga merupakan rentetan alur dimana sebelum memasuki area keluarga, maka adanya pasangan laki-laki dan perempuan sebagai calon mempelai laki-laki atau perempuan melakukan tahap penyesuaian diri. Tahap ini disebut tahap pra nikah. Sebelum adanya keluarga diawali dengan pra nikah, kemudian masuk pada area pernikahan baru terbentuknya keluarga kecil yang terdiri dari suami dan istri. Dalam keluarga kecil akan lahirnya anak dalam keluarga melengkapi keluarga tersebut.
Menurut Gibson and Mitchell (2011:178), menyatakan bahwa stress terbesar yang muncul selama proses perceraian dialami anak, dan penyesuaian semua pihak sesudahnya harus bisa terdokumentasikan dengan baik hingga mencangkup sejumlah problem seperti perasaan gagal yang sering menyertai perceraian, dan juga emosi-emosi negatif lain seperti marah, menyesal, atau depresi. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa hasil dari perceraian saat proses ataupun setelah terjadi perceraian adalah masalah-masalah yang dialami anak. Anak akan tinggal dengan salah satu orang tua kemudian menimbulkan tekanan bagi dirinya untuk menyesuiakan diri. Masalah semakin kronis jika anak pada tahap stress dan mengucilkan diri dari masyarakat dan lingkungannya.
Dari keterangan tersebut diperlukannya bimbingan dan konseling di dalam pernikahan dan keluarga dengan konselor sebagai pelaksanya agar hal-hal tersebut dapat diatasi ataupun mencegah problem-problem yang muncul dalam lingkungan pernikahan maupun keluarga. Akan tetapi, bantuan konseling yang efektif bagi keluarga dan pasangan di masyarakat yang kompleks dan penuh tantangan sehingga dirasa sulit.
b.      BK keagamaan
Ada 5 agama yang di sah kan oleh pemerintah Indonesia mengenai agama yang dianut. Agama yang disahkan adalah Islam, Katolik, Kristen, Budha dan Hindu. Adapula agama yang berkembang di Indonesia tetapi tidak sah yaitu konghucu dan sebagainya. Karena itu Indonesia disebut sebagai negara multiKultur.
Perbedaan agama di Indonesia juga berpengaruh pada perbedaan masalah yang dialami oleh tiap manusia. Perbedaan agama juga dapat menimbulkan masalah pula. Oleh karena itu perlu adanya konselor sebagai profesi untuk membantu individu/ masyarakat mengembangkan potensi dan memandirikannya. Dengan keanekaragaman agama membuat konseling juga memiliki ragam. Ragam konseling dalam keagamaan yaitu:
1)      Konseling Islami: suatu usaha membantu individu dalam menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama yang dimilikinya, sehingga ia kembali menyadari peranannya sebagai khalifah dibumi dan berfungsi untuk menyembah kepada Allah swt., sehingga akhirnya tercipta kembali hubungan baik dengan Allah, manusia dan alam semesta.
2)      Konseling Pastoral: suatu interpersonal relationship, suatu dialog (dan bukan monolog) yang terjadi antara pendeta dan konselinya, yang bisa melibatkan, seluruh aspek kehidupan mereka masing-masing. Sebagai konselor, pendeta tidak hadir sebagai pengkotbah di atas mimbar di dalam gereja pada konselinya tetapi juga berhadapan muka dengan konselinya sebagai dua pribadi yang utuh, yang masing- masing punya hak (dan kebebasan) untuk mengekspresikan dirinya.
3)      Konseling Agama Budha:

4)      Konseling Agama Hindu:


c.       BK di lingkungan pekerjaan
Konselor pekerjaan mengemban kewajiban konseling yang memenuhi standar minimum klasifikasi konselor pekerjaan. Konselor pekerjaan dipersyaratkan untuk memiliki kemampuan dalam memberikan tes kerja dan menginterpretasikan hasilnya didalam sistem kompensasi untuk mereka yang masih belum bekerja.
Fokus dari konselor pekerjaan adalah penempatan yang benar klien bekerja. Konselor diharapkan dalam prosesnya melakukan konseling problem pribadi dan membantu mereka mengembangkan sikap, keterampilan, dan kemampuan yang tepat yang akan membantu mereka lulus wawancara kerja. Dengan demikian para konselor terlibat dalam pengumpulan data dari klien dalam pemberian dan penginterpretasikan tes-tes standar.
d.      BK lanjut usia
Fungsi tubuh yang menurun, kesehatan yang bermasalah, dikucilkan kurang perhatian adalah beberapa masalah yang dialami oleh orang yang berusia lanjut. Dari semua masalah tersebut ada masalah yang paling pokok yaitu kesepian. Saat usia muda sering disibukkan dengan rutinitas kerja kemudian pada masa lanjut usia mereka menganggap bahwa hidup terasa hambar karena kurang produktif. Sehingga kesepeian adalah problem utama yang dihadapi banyak lansia, dan dari situ rasa kesepian menguatkan perasaan negatif lainnya seperti tidak berharga, tidak berdaya, frustasi, tidak bermakna, dan sebagainya. Dan problem krisis usia senja ini makin diperburuk jika mereka mengalami nasib kehilangan orang-orang dikasihi seperti istri/ suami yang meninggal, anak yang meninggal atau sibuk dengan hidup diluar kota, teman-teman, tetangga, dan kerabat yang lainnya (Gibson and Mitchell, 2011:181).
Pada masa usia lanjut ini, mereka tidak ingin diabaikan. Mereka sering  menuntut pada pemerintah, masyarakat atau konselor terhadap kebutuhannya. Tuntutan kebutuhan mereka seperti pelayanan bagi usia mereka yang sering terabaikan dengan layanan lain.
Oleh karena itu, bimbingan dan konseling adalah salah satu sosok tepat bagi usia lanjut. Layanan-layanan bimbingan dan konseling dengan pendekatan-pendekatan yang tepat dapat membantu para lanjut usia untuk memperoleh tujuan hidup mereka yang membuat mereka mandiri. Karena sering terjadi masalah seperti stres, depresi, dan alkoholisme adalah simtom umum yang dihadapi oleh para konselor gerontologi, dan untuk menanganinya, mereka harus menggali akar problem dan menyembuhkan hatinya (Gibson and Mitchell, 2011:181).
A.    Bimbingan Konseling Keluarga
1.      Konsep BK Keluarga
Adapun konsep dasar dari pelayanan konseling keluarga adalah untuk membantu keluarga menjadi bahagia dan sejahtera dalam mencapai kehidupan efektif sehari-hari. Konseling keluarga merupakan suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai kondisi psikologis yang serasi atau seimbang sehingga semua anggota keluarga bahagia. Ikatan bathin merupakan ikatan yang bersifat psikologis.
2.      Pengertian BK Keluarga
Keluarga (Departemen kesehatan RI:1988) merupakan unit  terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Jadi, Bimbingan Konseling Keluarga adalah Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
3.      Tujuan BK keluarga
a.       Tujuan Umum
Tujuan umum dari konseling keluarga pada hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1.      Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga.
2.      Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.
3.      Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.
4.      Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain.
5.      Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal.
b.      Tujuan Khusus
Tujuan khusus konseling keluarga adalah sebagai berikut:
1.      Untuk meningkatkan toleransi dan dorongan anggota – anggota keluarga terhadap cara – cara yang istimewa atau keunggulan anggota – anggota lain.
2.      Mengembangkan toleransi terhadap anggota – anggota keluarga yang mengalami frustasi / kecewa, konflik, dan rasa sedih yang terjadi karena faktor sistem keluarga atau diluar sistem keluarga.
3.      Mengembangkan motif dan potensi – potensi setiap anggota keluarga dengan cara mendorong,memberi semangat, dan mengingatkan anggota tersebut.
4.      Mengembangkan keberhasilan persepsi diri orang tua secara realistik dan sesuai dengan anggota – anggota lain.
4.      Tahapan-tahapan BK keluarga
Tahap-tahap yang dipakai saat memberikan layanan bimbingan konseling keluarga adalaha:
1.       Tahap persiapan:
a.       Mengembangkan hubungan yang baik (good report) antar terapis dan keluarga.
b.      Mengembangkan penghargaan emosional terhadap hubungan dalam keluarga, dinamika dan permasalahannya.
2.      Tahap pelaksanaan
a.       Mengembangkan alternatif pemecahan masalah.
b.      Membahas/ mendiskusikan setiap alternatif pemecahan masalah.
3.      Tahap akhir /penutup
Menerapkan salah satu alternatif pemecahan yang telah dipilih oleh keluarga.
Adapun tata cara pelaksanaan bimbingan dalam keluarga, diantaranya :
1.      Kenali pribadi individu terlebih dahulu, kenali karakter dan masalah – masalah yang sedang dihadapi individu (anggota keluarga) tersebut.
2.      Lakukan pendekatan, dengan pendekatan dan mendengar keluh kesah anggota tersebut ia mungkin akan merasa lebih aman untuk mencurahkan isi hatinya.
3.      Beri selang waktu agar anggota keluarga tersebut memiliki waktu luang yang tepat untuk menceritakan masalah/petentangan batinnya.
4.      Ciptakan suasana yang senyaman (kondusif) mungkin bagi individu, atau anda dapat menggunakan ruangan khusus yang diberikan aroma terapi.
5.      Hindari emosi dan rasa curiga serta rasa ingin tahu yang berlebihan. Terkadang orang merasa jengkel jika seseorang ingin tahu apa saja yang terjadi dalam dirinya secara berlebihan dan memaksakan.
6.      Jika individu/anggota keluarga tersebut membutuhkan nasihat atau kritik yang membangun maka berilah. Namun jangan berlebihan sehingga terkesan menggurui.
7.      Berikan motivasi dan bangkitkan rasa percaya dirinya dengan memberikan contoh yang dapat menjadi teladan.
8.      Sedapat mungkin bantulah ia mencari solusi/jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya.
9.      Berikan pujian jika hal ini memang dibutuhkan.
10.  Gunakan media yang dapat membantu anda untuk memberikan arahan agar individu dapat memecahkan masalahnya.
11.  Konsultasi dengan pihak – pihak terkait atau orang yang lebih ahli dalam menangani individu tersebut.
12.  Rahasiakan masalah/konflik yang terjadi dalam diri individu/anggota keluarga tersebut.
13.  Bimbingan tidak dapat dilakukan dengan jalan pintas atau backstreet dan ditinggalkan begitu saja, tapi harus dilakukan secara berkala.
5.      Teknik-Teknik BK keluarga
a.       Tekhnik Umum
1.      Perilaku attending :Perilaku attending yang baik dapat meningkatkan harga diri klien,menciptakan suasana yang nyaman dan mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.
2.      Eksplorasi  : Teknik untuk menggugah perasaan, pikiran, dan  pengalaman klien. Hal ini penting di lakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.
3.       Menangkap pesan (paraphrasing)  : Teknik untuk menyatakan kembali inti ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana.
4.      Pertanyaan terbuka  : Teknik memancing klien agar mau berbicara mengungkapakan perasaan,pengalaman dan pemikirannya
5.         Empati      : Kemampuan konselor untuk merasakan apa yang di rasakan oleh klien merasa dan berfikir bersama klien.
6.      Refleksi     : Teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non-verbal.
b.      Tekhnik khusus
Teknik teknik khusus yang di kembangkan dari berbagai pendekatan konseling seperti pendekatan behaviorisme, rasional emotif, latihan asertif, pembentukan perilaku model, permainan dialog dan bermain peran.
6.      Pendekatan-Pendekatan BK Keluarga
Pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan BK keluarga adalah:
a.       Diagnosis dan Konseling Keluarga oleh Ackerman
Tekanan teori ini pada kejadian yang sederhana dan kausal. Keluarga-keluarga yang mengalami masalah memahami bahwa di dalam keluarga tersebut sedang ada kekacauan. Sehingga diagnosis dan putusan dari pemecahan masalah harus ditanggapi oleh seluruh anggota keluarga.
b.      Konseling Keluarga secara bersama-sama oleh Sair
Pada teori ini, dituntut agar suami dan istri hadir pada wawancara konseling di pertemuan pertama sehingga akan diketahui kebutuhan-kebutuhan suami dan istri dalam rangka menggali infromasi tentang masalah yang sedang dialami. Dalam konseling ini, seluruh anggota keluarga harus berperan serta menyelesaikan masalah dari suami, istri dan anak-anak. Konselor harus mampu mengerti dan menerima kondisi keluarga tersebut terutama pada anak-anak.
c.       Konseling Keluarga berdasarkan Triad
Triad mengembangkan konseling keluarga berdasarkan hubungan antara 3 orang atau lebih dalam keluarganya, yaitu:
1)      Antara anak – ibu – anak
2)      Antara anak – ayah – anak
3)      Antara ayah – anak – ibu
Karena adanya pertentangan dalam keluarga melibatkan 2 orang atau lebih, maka konselor harus bisa menadi penengah.
d.      Konseling Kelompok Keluarga oleh Bell
Bell mementingkan konseling agar memfungsikan pentingnya hubungan dalam keluarga sebagai cara untuk memperkuat hubungan sebagai suatu kelompok. Peningkatan komunikasi keluarga sebagai cara yang paling baik untuk pemecahan masalah keluarga dengan beberapa ajaran sebagai berikut:
1)      Sifat yang lebih fleksibel
2)      Lebih terbuka
3)      Langsung
4)      Jelas dalam berkomunikasi
5)      Disiplin
e.       Konseling Tingkah Laku Keluarga oleh Liberman
Konseling ini menekankan pada kesepakatan antara pribadi (konselor dan anggota keluarga) untuk mengubah problema tingkah laku yang lebih sesuai. Tetapi perlu keuletan dari konselor.
f.       Konseling Dampak Ganda oleh Gregor
Konseling ini dengan melihat terlebih dahulu gangguan atau krisis yang dialami pada masa remajanya. Konseling ini melibatkan orang-orang yang ada hubungannya dengan keluarga (saudara, tetangga, teman, dll). Proses pertemuan ini dengan pertemuan antara konselor, klien, keluarganya dan orang-orang yang berkaitan kemudian diwawancara dan diskusi bersama.
g.      Campur Tangan Jaringan Sosial oleh Speck
Speck menjelaskan bahwa keterlibatan seluruh anggota keluarga yang bermasalah yang kira-kira berjumlah 40 orang. Kemudian salah satu diantara mereka dipilih sebagai pemimpin jaringan sosial yang memiliki kharisma, perasaan, peka terhadap kelompok, empati, dan perasaan terhadap suasana hati kelompok. Sehingga tercipta perasaan kesatuan dan rasa memiliki antar keluarga.
7.      Jenis-Jenis Bimbingan Keluarga
Jenis bimbingan yang biasanya dilakukan didalam keluarga diantaranya:
1.      Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar merupakan proses untuk membantu anak mengatasi kesulitan belajarnya. Orang tua dalam hal ini berperan mengajarkan dan membimbing, bukan mengerjakan tugas si anak.
2.      Bimbingan Ibadah/Agama
Dengan adanya bimbingan ini, anggota keluarga dapat mengenal agamanya sendiri, kaidah ataupun ajaran yang berlaku dalam agamanya sehingga memungkinkan untuk lebih mendekatkan diri kepada yang kuasa.
3.      Bimbingan Akhlak
Secara umum bahwa akhlak dapat disamakan dengan budi pekerti, perangai atau kepribadian dari hal tersebut setiap individu berangkat dalam mempertahankan jati diri dari kesewenangan-wenangan individu lainnya, akhlak dapat mencerminkan kepribadian sekaligus dapat menggambarkan karakteristik untuk senantiasa dibina demi mempertahankan citra diri dan keluarga serta masyarakat sekitarnya.
4.      Bimbingan Orientasi
Bimbingan orientasi ini dimaksudkan untuk memberi arah atau gambaran kepada anggota keluarga dalam kehidupan. Misalnya membimbing anak dalam mencapai cita – cita dan keinginannya.
5.      Bimbingan Konseling Penyelesaian Masalah
Jika anggota keluarga mengalami masalah, jangan memarahinya. Karena hal ini akan memperburuk keadaan. Usahakan untuk membantu anggota keluarga mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.
6.      Bimbingan Keterampilan Hidup
Bimbingan keterampilan hidup (lifeskillscounseling) disebut juga lifeskills helping (LSH) atau lifeskills therapy merupakan “suatu pendekatan yang integratif untuk membantu klien agar mampu mengembangkan keterampilan membantu dirinya sendiri (self-helping)”.
7.      Pihak – Pihak Yang Melaksanakan Bimbingan Konseling Dalam Keluarga
Pihak – pihak yang melaksanakan bimbingan dalam keluarga adalah orang yang paling mengerti dan memahami karakter anggota keluarga. Adapun pihak – pihak yang dapat melaksanakan bimbingan dan konseling dalam keluarga, diantaranya :
1.      Ayah/ibu (suami/istri)
Ayah/ibu adalah tumpuan utama keluarga, tanpa adanya ayah dan ibu suatu keluarga tidak mungkin terbentuk. Ayah dan ibu adalah unit utama yang dapat mempengaruhi perilaku anaknya.
2.      Paman/bibi
Paman/bibi ini adalah kerabat dari pihak ayah maupun ibu. Peran paman/bibi hampir sama dengan peran orang tua, walaupun terkadang terdapat perbedaan diantaranya.
3.      Kakek/nenek
Kakek/nenek adalah pihak yang juga memiliki peranan penting dalam melaksanakan bimbingan, karena anak pada umumnya lebih dekat kepada kakek/nenek dibandingkan ayah/ibu, terutama ayah/ibu yang sibuk dengan karirnya.
4.      Kerabat dekat
Kerabat dekat ini biasanya lebih dikenal dengan sepupu. Anggota keluarga bisanya lebih suka mencurahkan isi hatinya kepada sepupu karena biasanya sepupu memiliki umur/sebaya dengan mereka, yang dianggap lebih memahami kondisi anggota keluarga tersebut.
5.      Mertua
Mertua berasal dari ayah/ibu pihak suami/istri. Walaupun ada anggapan ‘mertua galak’ namun tidak semuanya seperti itu. Mungkin saja mertua dapat membantu anda dalam menyelesaikan masalah di keluarga anda karena lebih memahami karakter menantu/anaknya sendiri.
6.      Konselor diluar keluarga
Konselor diluar keluarga adalah orang ahli yang didatangkan di luar sistem keluarga namun telah dipercaya oleh keluarga tersebu untuk membantu menyelesaikan problematika yang terjadi didalam keluarganya.







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Bimbingan Konseling Keluarga adalah Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
Bimbingan konseling keluarga dapat dilakukan oleh anggota keluarga itu sendiri namun jika masih belum ditemukan titik permasalahannya maka konselor dari luar anggota keluarga boleh dilibatkan.
B.     Kritik Dan Saran
Semua masalah dapat diselesaikan dengan caranya masing-masing. Hasilnya pun bergantung dari usaha pemecahan yang di ambil oleh anggota dalam keluarga tersebut. Sebelum masalah intern keluarga itu di selesaikan oleh pihak lain (orang diluar anggota keluarga yang memiliki masalah) maka usahakan masalah tersebut diselesaikan oleh anggota keluarga dahulu (konselor pribadi).








DAFTAR PUSTAKA

http://allamandakathriya.blogspot.com/2012/04/program-bimbingan-konseling-dalam.html
http://freesri.wordpress.com/konseling-keluarga/konseling-keluarga/
http://r-doc.blogspot.com/2010/11/teknik-teknik-dalam-bimbingan-dan.html
http://saputraeddy002.blogspot.com/2012/11/bimbingan-dan-konseling-keluarga.html
Prof.DR.H.Pratitno, M.Sc.,Ed. Dan Drs. Erman Amti; cetakan kedua Dasar-Dasar Bimbingan Dan Koseling; PT Rineka Cipta; Jakarta; 2004





Tidak ada komentar:

Posting Komentar